MUHASABAH CINTA

Senang rasanya kembali bisa menulis lagi, ditemani malam dingin dalam kesunyian, Udara malam yang semakin menusuk semua rusuk-rusukku sangatlah terasa menyehatkan. Betapa ku rasakan betapa aku hidup hari ini. Semua lepas seperti detik jam yang takkan pernah kembali. Mengupayakan pemikiran, perbuatan, dan kenangan yang harus bernilai baik. Apalagi kalau teringat betapa manisnya senyum gadis itu tadi siang, oh Maafkan aku ya Rabb.

Perjalanan untuk menjemput impian memang sedang berjalan , dengan hati gembira. Semua akan terasa indah. Ayahku yang mungkin malam ini sudah tertidur pulas, betapa doaku untuk kebaikannya, sebagai penyemangatku di dunia indah ciptaan-Nya. Semua kata kata indah akan terucap malam ini. Jika terdengar sengau, maka aku akan terdiam sejenak.

Untuk Rabb penciptaku, terima kasihku yang tak terhingga takkan mampu membalas udaramu yang telah aku hirup, membayar air yang telah aku minum, mempelajari ilmuNya yang membuat aku bijak. Aku memang dhoif yang satu di hamparan pasir pantai, tapi begitu mulianya Engkau dengan Kau jadikan aku mahluk yang sempurna.

Wah, sudah tiga paragrafh tulisan ini berjalan, aku takkan menghentikan lajunya hingga mataku merayu untuk menidurkannya. Sebagai hambanya yang baik, aku harus katakan semuanya. Aku bisa membuat seribu kata kata bijak, karena aku diciptakan oleh Yang Maha Bijak. Bijak tentang kehidupan, juga kematian.

Tentang kehidupan, betapa aku hidup hari ini. Maka tidak ada lagi pemikiran untuk baik di hari esok, karena aku takut esok tinggal nama. Maka yang aku katakan ‘aku hidup hari ini, aku harus bijak hari ini, kaya hari ini, jujur hari ini, sukses hari ini, qona’ah hari ini, saling menyayangi sesama hari ini, bersyukur hari ini, menangis hari ini, belajar hari ini, dan semua yang baik harus berakhir hari ini, hari ini, hari ini, dan tetap hari ini.

Tentang kematian, aku akan ingat kau selalu. Dengan setia kau pasti akan datang. Aku malu, betapa baiknya engkau sebagai ketetapanNya nanti. Karena kau datang sebagai penjemputku, maka akan benarlah pertemuanku denganNya segera nyata. Sebelum engkau datang, maka aku harus bersiap siap.

Wah, benar. Ada yang coba merayu nih , kedua mataku yang baik sudah ingin istirahat. Sudah dulu ya, sebagai sebuah tulisan. Ketika aku membacamu untuk kesekian kalinya , pasti aku aku akan semakin bersemangat, semakin cinta kepada orang tuaku , semakin siap menghadapi kematian itu,  semakin menjadi hambanya yang paling bertakwa . Untukmu ya Rabb, izinkan aku mencintaMu tanpa pernah ada rasa ingin selingkuh. Kepada baginda Rasulku, betapa aku menjunjungmu. Shalawat salamku, terimakasih kau wariskan aku harta yang tak ternilai ini. Islam yang indah islam yang mulia.